Translate

Simak DESAIN ANDALAN kami

Kerajinan Kayu Jati Belanda :
LAMPU HIAS TIDUR


Rp 195.000,-

Desainer : Studio IZZURAU
Ukuran :  20 cm x  13 cm, tinggi = 20 cm
Berat :  2000 gr (termasuk kemasan)


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

#2 Hari Raya di hari Jum'at

          Menjelang tengah hari.

         Langit komplek perumahan Nusa Indah saat itu cerah sumringah, menyambut hari. Seakan langit tahu, hari itu adalah hari istimewa. Ya, hari Jum'at, hari raya mingguan.

         Angin semilir membelai-belai pepohonan singkong karet di halaman rumah Waki'. Suaranya berbisik-bisik kepada dedaunan. Dedaunan mengangguk-angguk bagaikan mengerti bisikan alam itu.

           Waki' seperti biasanya, 'asik' menyuarakan suara mobil sembari menjalankan mobil-mobilan kayu buatannya sendiri di permukaan tanah halaman rumahnya. Bermain selepas pulang sekolah adalah suatu 'kemerdekaan' bagi dirinya dari tekanan-tekanan pelajaran pada otaknya di sekolah. Halaman rumah Waki' luas. Merupakan lapisan hamparan selebar enam meter yang mengelilingi rumahnya. Lapisan terluar adalah pagar bambu utuh tegak berbaris setinggi dua meter mengelilingi halaman.

          Pagar setinggi itu, nampaknya sengaja dibuat agar Waki' tidak 'nggeladrah' main sampai keluar halaman rumah. Ibunya sangat ketat, menjaga dirinya agar tidak terlalu banyak bermain di luar dengan anak kampung.



          Masih ada dalam ingatan Waki',  perkataan ibunya bahwa, anak kampung itu kotor, tidak bersandal, sarungan, dan sering main ke masjid. Sedangkan anak ningrat itu anak baik, resik, 'neces', banyak berada di rumah, dan tidak main ke masjid.

          Pernah suatu ketika, waktu Waki', baru kelas dua sekolah dasar, ibunya memberi peraturan, "Sekarang tidur dulu !  Boleh main keluar rumah sore, mulai jam setengah tiga ya !"

         Dan, Waki' masih terbayang sekali siang itu, mata Waki', sulit terpejam.

         Selalu terbayang-bayang imajinasi Waki', menjadi sopir truk mobil-mobilan kayunya. Mulutnya selalu berdengung, bak suara mesin diesel mobil truk betulan. Waki' menarik mobil itu dengan seutas tali. Truk itu melewati tanjakan gundukan pasir, melewati turunan lobang di tanah yang penuh genangan air hujan terimajinasi dari truk gagah berani mengambil resiko menyebrangi sungai ketika jembatan rusak.

          Ketika truk melewati tanjakan dengungan Waki', makin keras, "Ngeeeengg!!!! Ngeeeeeeeeeng!!"
Ketika turunan, "Ciiit, esss aaahh, ciitt eesss.  aaahh...". Betul-betul sulit membedakan dengan bunyi rem angin asli mobil truk betulan.

         Imajinasi dan khayalannya menggelembung. Membuncah. Waki' gelisah. Ia menatap jam dinding baru jam dua siang. Masih setengah jam lagi. Rumahnya sepi. Suara ibunya tidak terdengar lagi. Pasti sudah lelap. Waki' sudah tak bisa bertahan lagi. Seakan peraturan ibunya belum pernah dia dengar. Dia menghambur keluar rumah. Mobil-mobilan truk kayu disambarnya.

         "Hayooo !!! kapok enggak !!! boleh main jam setengah tiga, jam dua sudah ngilang!!!", ibunya mengayunkan sapu lidi ke paha Waki' berkali-kali.

          "Ampun buuu, ampun buuu....," teriak Waki', lirih menahan pedas pahanya.Air mata Waki' tak terbendung. Suaranya sesenggukan.

          Pukulan sapu lidi bertubi-tubi membuat tangis Waki' semakin keras, tersenggal-senggal. Akhirnya dia lari ke sana ke mari, berusaha menyelamatkan dirinya. Ibunya masih gemas mengejarnya. Tangis Wakidi makin menjadi-jadi.

         "Sreek, sreek, sreek ...," suara sandal dipakai setengah diseret memecah ingatan Waki' pada kenangan pedihnya.

         Waki' menghentikan permainan truk kayunya. Ia mengintip di sela-sela pagar bambu. Terlihat bayangan anak sedang berjalan di jalan depan rumahnya. Pandangan Waki' mengikutinya di antara celah-celah bambu. Ketika sampai di depan gerbang pekarangan rumahnya dan tinggi bambu agak rendah, oh ... rupanya si Ato temannya, tetangga sebelah. Wajah Waki' menyala. Waki' yang anak laki-laki sendiri dalam keluarganya, bakal bermain tidak sendiri lagi. Ato kesini tentu ingin bermain bersamanya. Wah, bakal seru nih.

         Ato bagaikan kereta api berjalan dengan tetap lajunya melewati depan gerbang halaman rumah Waki'  tanpa mengindahkan Waki' temannya yang sedang bermain mobil-mobilan truk kayu.

         "Woi ! endak kemano kau ?" lengking Waki' dengan logat asli Bengkulu yang kental.

         "Sholat Jum'at!!!" balas Ato lebih melengking lagi, dan semakin ditelan jarak.

         Waki' tertegun. Ia ingin meneriaki Ato lagi. Suaranya seperti duri ikan tersangkut di kerongkongan lehernya. Ato semakin jauh. Waki' menatap Ato yang semakin mengecil. Ia terpaku. Dalam tatapan Waki' baru menyadari, Ato yang bukan orang Jawa itu memakai sarung, berbaju rapi dan menenteng kopiah yang belum dipakainya. Ada apa ? Mengapa Ato tidak berpakaian main seperti biasanya ? Apakah sekarang hari ini Hari Raya ?

         "Sholat Jum'at ?" pertanyaan itu bertubi-tubi dalam benaknya. Kemana gerangan temannya si Ato itu siang-siang begini ? Apakah 'sholat Jum'at' itu sama dengan acara Hari Raya di hari Jum'at ?. Siang hari itu menyisakan pertanyaan yang tak terjawab bagi Waki'. Waki' belum menyadari bahwa pertanyaan itulah yang akan mengubah sebagian besar jejak-jejak hidupnya dengan cara yang mengagumkan. Dan semua itu akan terjawab belasan tahun kemudian. Jauh di depan sana.

         Sayup-sayup terdengar adzan dari masjid di pinggir jalan masuk komplek. (SsS)

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pencarian Populer Minggu Ini