Translate

Simak DESAIN ANDALAN kami

Kerajinan Kayu Jati Belanda :
KAP LAMPU TIDUR KHAIBAR


Rp 96.950,-

Sudah termasuk : 
# Diskon 30%
# Subsidi ongkir Rp 10.000,-

Harga asli Rp 138.500,-

Studio : Izzurau Kayu
Ukuran :  10,5 cm x  10,5 cm, tinggi = 24 cm
Berat :  700 gr (termasuk kemasan)


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

#6 Pengajian


          Rumah itu tidak besar. Rumah sederhana terbuat dari tembok batu bata. Berukuran kira-kira enam meter kali dua belas meter, rumah tersebut bukanlah termasuk rumah yang besar. Terletak di bagian selatan pusat ibukota, di daerah yang cukup padat. Kusen, pintu dan jendelanya dilapisi cat yang sepertinya cat murah, karena banyak yang sudah terkelupas. Rumah Arman telah di hadapan Waki' dan Tris.

          Sore tadi, setelah waktu Ashar, Waki' bersama Tris bau saja turun dari kendaraan umum. Mereka turun di suatu mulut gang di daerah selatan pusat ibukota. Waki' sengaja dan berhasil mengajak Tris, teman kos lamanya dan satu jurusan dalam perkuliahan di sekolah tinggi. Waki' pikir, jika ia bisa mengajak salah seorang temannya, tentu Waki' bisa ajak tukar pikiran dan berdiskusi tentang pengajian yang akan ia ikuti. Dan, Tris mau. Tris ikut tanpa ada penolakan. Tris adalah teman Waki' yang cukup terbuka. Tris mudah menerima kebaikan-kebaikan. Dari awal 'ngekos' di rumah kos kontrakan lama Waki' memang cocok berteman dengan Tris. Dan, Tris lah yang mengikuti seluk beluk mengapa terjadi perubahan mental pada Waki'. Tris juga satu perguruan dan satu tingkat dalam perguruan pencak silat yang Waki' ikuti. Tentu saja Tris juga kenal dengan Amran.
Kemudian, mereka menyusuri gang tersebut sambil mencari alamat yang dituju, rumah Amran.

          "Assalamu'alaikum...", Waki' memberi salam dan sudah berada di depan bingkai pintu depan rumah Amran.

          "Wa'alaikumussalam ...", sahut suara dari dalam rumah. Terdengar langkah kaki yang makin mendekat.

          Pintu depan rumah terkuak.


           "Eh, Waki' dan Tris ....apakabar ? Masuk, masuk ...", Amran menyalami mereka dengan jabat tangan yang erat sekali. Amran mengajak masuk ke dalam rumah, ke dalam ruang tamu yang cukup sempit dengan kursi-kursi model lawas dan sederhana. Dan, tentu suasana rumah Arman pun serba sederhana. Arman mempersilahkan duduk, tak lupa senyum selalu melengkapi wajah seramnya.

           Waki' dan Tris duduk. Merekapun terlibat pembicaraan layaknya baru pertama kali berkunjung ke rumah teman mereka, Arman. Bicara tentang apakah sulit mencari rumah Arman, naik kendaraan apa, berangkat jam berapa, lalu lintas macet apa tidak, dan bla bla bla.

          Di tengah obrolan, sekonyong-konyong Waki' bertanya, "Kita jadi ikut pengajian gak ya ?, dimana sih pengajiannya ? Ustadznya siapa ?"

          Raut wajah Arman terlihat ingin menjawab, akan tetapi ia menghentikan, ia diam sejenak.

          "Kita ngaji di rumah ini, ya ... sekarang, pemberi materinya untuk saat ini sementara saya sendiri, nanti jika mulai masuk ke materi-materi yang mendalam ada pemateri yang khusus dan lebih tinggi lagi." Arman menjelaskan.

          Waki' dan Tris saling berpandangan. Keheranan.

          Hei, Waki' mengira akan diajak Arman ke suatu pengajian, entah di masjid mana, dan pemberi materi ustadz siapa begitu. Kok, ini di rumah saja, pemberi materinya dia sendiri pula. Aneh ! Lalu peserta pengajiannya siapa saja ? Jika pengajian diadakan di rumah ini, yang sempit ini, cukup berapa orang ? Berbagai pertanyaan bertalu-talu di benak Waki'.

         "Pesertanya siapa saja ?" tanya Waki' lagi untuk mencari jawaban dari pertanyaan di dalam benaknya.

         "Kalian berdua," jawab Arman mantap.

          Lho, kok hanya berdua saja. Waki' semakin heran saja. Tris juga tercengang. Sejenak hening mengendap di awang-awang ruang tamu.

         Amran bangkit dari duduknya memecah keheningan, "Ayo kita mulai saja."

         Amran melangkah menuju pintu yang terletak di samping ruang tamu, dan membukanya. "Kita ngaji di sini, ayo masuk saja," Amran mengajak Waki' dan Tris yang masih ragu-ragu untuk masuk ruang tersebut.

         Baiklah, Waki' dan Tris mengikuti saja. Mereka masuk ke ruangan tersebut. Ruang yang cukup sempit jika memang untuk digunakan pengajian. Ruang dengan ukuran kira-kira tiga meter kali tiga meter itu tidak ada perabotan apapun, kecuali tikar anyaman plastik terhampar dan sebuah whiteboard yang disandarkan begitu saja pada dindingnya. Ada sebuah spidol 'boardmaker' tergeletak begitu saja di depan whiteboard itu. Waki' mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan. Rasa-rasanya ruangan ini memang khusus untuk pengajian, dan sudah sering digunakan untuk hal itu. Terlihat dari tikar yang terhampar, terasa sangat melekat pada lantainya, bukan layaknya tikar dengan sisa lipatan-lipatan kecil yang baru saja dihamparkan.

         Amran duduk di samping whiteboard, begitu pula Waki' dan Tris mengikuti duduk di hadapan Amran. Pengajian pun dimulai. (SsS)

***

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pencarian Populer Minggu Ini